Sabtu, 25 Oktober 2014

Asuransi, Wujudkan Semua Mimpi

Dua minggu yang lalu kampung kami berduka. Langit tersaput mendung. Apa sebab ? Karena tetangga kami ada yang meninggal. Yang membuat hati kami miris adalah cara meninggalnya yang mendadak dan keluarga yang ditinggalkan oleh Mas Nurul, nama tetangga kami tersebut. Dia meninggal karena kesetrum atau tersengat aliran listrik saat melakukan pekerjaan mengelas tralis besi di lantai atas sebuah bangunan. Kakinya melepuh, lututnya retak dan kepalanya mengalami gegar otak.

Hati kami bertambah sedih karena lelaki hitam manis tersebut meninggal dalam usia 35 tahun dan meninggalkan 4 anak perempuan yang masih kecil-kecil. Si sulung kelas 2 SD, yang nomor dua masih sekolah di Taman Kanak-kanak (TK), nomor tiga masih berumur 3 tahun dan yang bungsu baru genap berumur setahun. Yang membuat kepedihan kami semakin mendalam adalah karena istri Mas Nurul adalah ibu rumah tangga biasa, hingga sumber penghasilan keluarga hanya mengharapkan dari Mas Nurul semata.

Diantara obrolan antar tetangga adalah bagaimana masa depan anak-anaknya ? Kami pun lantas berandai-andai. Coba ya, dulu Mas Nurul ikut asuransi, pasti tak akan begini kejadiannya. Istri Mas Nurul nggak perlu kembali ke rumah orang tuanya, pun pendidikan anak-anaknya akan senantiasa terjamin, karena ada pihak asuransi yang akan mengcover semua kebutuhan mereka.

Perlunya asuransi dalam kehidupan

“Ah, jadi orang kok ngalup (mengharap musibah). Pengin mati atau kecelakaan ya ?” komentar orang-orang
ketika saya ajak bicara tentang asuransi. Saya memakluminya. Karena dari total penduduk Indonesia yang kurang lebih berjumlah 240 juta, hanya 4,5% nya atau 11 juta jiwa yang telah memiliki asuransi jiwa secara individu. Benarkah asuransi hanya dibutuhkan ketika tertimpa musibah kecelakaan atau meninggal saja ? Tentu saja tidak. Apalagi di era kebutuhan yang semakin beragam ini.

Tapi tak semua cerita tentang asuransi bernada negatif. Saya masih ingat cerita Bu Heni, teman kerja saya yang sekarang sudah memasuki masa purna bhakti alias pensiun. Meski usianya sudah lanjut, tetapi dia masih merasa perlu ikut asuransi.
“ Aku ikut asuransi yang mbayarnya triwulanan, Dik. Ketika ada bonus kantor, saat itulah aku membayarnya. E.. pas anak-anakku kuliah dan butuh biaya banyak, asuransi pendidikan yang kuikuti saatnya cair. Sangat membantu. ”
Dan memang saya akui, cerita Bu Heni itu benar adanya. Tiga anak lelakinya dapat menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana.

Pengalaman ikut asuransi

Ternyata berbagi cerita atau pengalaman dengan orang lain banyak manfaatnya. Seperti cerita asuransi Bu Heni yang sangat menginspirasi saya.

Maka pada tahun 2003 ketika ada tetangga saya yang merupakan agen sebuah perusahaan asuransi, saya pun langsung mengiyakan ketika ditawari untuk ikut salah satu asuransi jiwa.

Premi triwulanan yang saya bayar adalah sebesar Rp 580.000,00 dan akan turun sedikit untuk pembayaran tahun ke-6 hingga ke-10. Sebagai hasilnya, jika tak ada pengambilan atau klaim sampai akhir tahun kesepuluh (tahun 2013) saya akan menerima uang asuransi sebesar 21 juta. Lumayan kaan ? Dan ternyata uang asuransi ini nantinya bisa saya gunakan untuk mewujudkan berbagai mimpi-mimpi saya.

Terwujudnya impian mempunyai kulkas dua pintu

Tanpa saya duga, ternyata pada akhir tahun 2012 saya hamil anak yang ketiga. Meskipun terkesan mendadak, saya berkeinginan untuk memberikan ASI eksklusif seperti kepada dua anak saya sebelumnya. Karena saya percaya, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Sama seperti asuransi, yang juga sangat berguna dalam berbagai aspek kehidupan.

Sehubungan dengan niat saya untuk memberikan ASI eksklusif, saya membutuhkan kulkas dua pintu untuk menyimpan ASI perah selama saya bekerja. Dan syukur Alhamdulillah, ternyata asuransi berperan besar dalam mewujudkan impian saya untuk mempunyai kulkas dua pintu tersebut.
kulkas dua pintu hasil asuransi


Berdasarkan pengalaman saya, asuransi seperti menabung yang dipaksa. Mau tidak mau kita harus membayar premi asuransi pada saat waktu yang telah ditentukan. "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian." Setelah menabung beberapa waktu, kita akan menikmati hasilnya saat menerima pencairan uang asuransi.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ketika saya membutuhkan kulkas dua pintu, ternyata uang asuransi saya cair tanggal 1 Agustus 2013 kemarin. Berdekatan waktunya dengan saya melahirkan anak ketiga pada tanggal 5 Agustus 2013 dan hari Raya Idul Fitri 1434 H pada tanggal 7 Agustus 2013. Kita semua tahu, dua momen besar tersebut sangat membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Ketika tahu akan menerima uang asuransi, saya menjalani masa-masa kehamilan dengan hati tenang dan riang. Seandainya saya akan melahirkan dengan cara operasi sesar yang memerlukan biaya sangat banyak, saya sudah siap. Untung saya melahirkan secara normal. Jadi uang asuransi yang saya terima disamping untuk membeli kulkas dua pintu juga bisa untuk membiayai aqiqah anak perempuan saya yang ketiga. Dan ternyata masih ada sisa lagi,  saya tabung untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan si kecil dan kakak-kakaknya.

Saat saya cerita ke teman-teman di kantor, mereka heran kok saya bisa menerima uang asuransi ya ? Ternyata mereka masih mempunyai pemikiran yang sama, bahwa asuransi identik dengan kecelakaan dan kematian. Jika tak ada peristiwa kecelakaan atau kematian, maka premi asuransi yang telah mereka bayar akan hilang. Padahal tak semua asuransi seperti itu.

Terwujudnya impian bisa mengendarai mobil

Di samping ikut asuransi jiwa, saya juga pernah ikut asuransi mobil. Hal ini berawal karena saya membeli mobil baru secara kredit pada tahun 2008. Oleh perusahaan leasing mobil, untuk mengantisipasi berbagai kejadian, maka mobil saya pun diasuransikan. Karena kredit yang saya ambil selama tiga tahun, maka mobilnya pun diasuransikan selama tiga tahun pula. Tahun pertama pembelian, asuransi mobil saya all risk. Bila terjadi  kerusakan hingga kehilangan mobil akan ditanggung oleh pihak asuransi. Tahun kedua dan ketiga hanya resiko kehilangan saja yang ditanggung oleh pihak asuransi.

Pada tahun pertama ketika asuransi all risk, saya merasa tenang saat berkendara. Apalagi saat awal-awal memiliki mobil saya merupakan orang yang bonek alias bondo nekad. Nggak bisa naik sepeda dan sepeda motor tapi langsung nekad naik mobil. Mobilnya pun masih kinyis-kinyis pula, alias fresh from the oven. 

Maka ketika mobil saya mbaret, lecet, menabrak pohon atau spion “disenggol” oleh mobil lain, saya tenang-tenang saja. Bukannya saya tak berhati-hati. Tapi walaupun saya telah berhati-hati dan mobil lain yang salah, belum tentu juga kan sopir mobil lain tersebut mau bertanggung jawab membiayai kerusakan mobil saya ?

Nah, inilah enaknya ikut asuransi mobil. Saat mobil mengalami kerusakan, dengan membawa STNK dan polis asuransi, saya tinggal datang ke perusahaan asuransi mobil. Dengan berbekal surat pengantar dari pihak asuransi, saya serahkan mobil untuk diperbaiki oleh bengkel body repair yang telah ditunjuk atau bekerja sama dengan perusahaan asuransi. Enak sekali kan ?

Berkenalan dengan Allianz

Setelah dua asuransi yang saya ceritakan di atas berakhir, saat ini saya juga ikut dua asuransi jiwa. Yang pertama untuk persiapan biaya pendidikan anak ketiga saya, Mutiara Larasati yang saat ini berumur 14 bulan. Dan yang kedua asuransi untuk persiapan kalau nanti saya pensiun.

Ternyata kegemaran saya ikut asuransi menarik minat teman-teman saya yang lain. Mereka mengajak saya untuk ikut asuransi yang mereka tawarkan, dimana mereka berdua menjadi agennya. Tak henti-hentinya mereka meyakinkan saya dengan berbagai macam kelebihan dan keunggulan asuransinya dibandingkan asuransi yang lain. Awalnya saya cuek. Tapi batu pun bila diguyur air setiap hari, pasti akan terkikis juga. Begitu pun saya. Hinggaa…
“Sampeyan ikut asuransinya to Mas ?” tanya saya di suatu siang.
“Ya ikut dong. Masak agen nggak ikut.”

Lalu meluncurlah cerita tentang pengalamannya saat ikut asuransi yang ditawarkan tersebut.
“Aku ikut yang syariah, Mbak. Pas mau nikah dan membayar uang muka sepeda motor, kuambil uang asuransiku,” ceritanya dengan nada bangga. “Jadi tak merepotkan orang tua tua lagi.”

asuransi Allianz syariah


Lain lagi dengan Etty, teman sekaligus sahabat saya sejak SMEA. Saat kami bertemu makan malam di suatu mall di kota Semarang, meluncurlah sekelumit cerita darinya :
“ Asuransi ini mengcover semua jenis penyakit. Meski baru saja terdaftar ikut asuransinya.”

makan malam dengan Etty


Ih, kok enak banget sih asuransi yang mereka ikuti dan ageni itu. Karena tak ingin lama-lama penasaran, dengan malu-malu saya pun mem-bbm mereka berdua.
“ Eh, apa sih, asuransi yang kalian ikuti ?”

Hanya berselang lima menit, jawaban mereka ternyata sama : Allianz. Ah, jadi penasaran saya dengan asuransi Allianz ini. Kita coba menguliknya yuuk..

Apa sih Allianz itu ?



perkembangan keuangan Allianz

Sejak didirikan di Berlin, Jerman pada 123 tahun yang lalu, kini Allianz telah dipercaya melayani lebih dari 78 juta nasabah melalui perwakilan yang berada di lebih dari 70 negara di seluruh dunia. Sedangkan Allianz hadir di Indonesia sejak tahun 1981 dengan membuka kantor perwakilan di Jakarta. Selanjutnya Allianz mendirikan asuransi umum PT Asuransi Allianz Utama pada tanggal 21 Desember 1989 untuk memberikan solusi asuransi umum yaitu asuransi kendaraan bermotor, properti, rekayasa, pengangkutan dan asuransi aneka (liability & casualty) baik konvensional dan syariah untuk melayani kebutuhan asuransi nasabah perorangan, bisnis kecil menengah (UKM) dan untuk korporasi/industrial.

Melalui Yayasan Allianz Peduli, Allianz Indonesia aktif melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan, kesehatan dan kemanusiaan juga lingkungan hidup. Kegiatan terbaru Allianz Indonesia adlah program Financial Literacy (FL) yang bertujuan membekali generasi muda dan dewasa dengan kemampuan dan wawasan emngenai keuangan agar dapat membuat kepuusan keuangan yang efektif. Serta kegiatan Disaster Risk Reduction (DRR) yang bertujuan untuk membantu meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana alam. Allianz juga turut memerangi pemanasan global melalui program pengurangan CO2 dengan menanam 1.000 pohon trembesi di kawasan Industri Jababeka.

Berbagai penghargaan telah berhasil diperoleh Allianz Utama antara lain :
- Indonesia Best e-corp and BEST CIO Award 2010 dari majalah SWA
- The Best Islamic General Insurance 2013
- The Most Profitable Investment Islamic General Insurance 2013
- The Most Expansive Insurance Islamic General Insurance 2013

- The Best Risk Management Islamic General Insurance dari Karim Business Consulting
- Top Ten Producer dari Asuransi Maipark

- The Most Favourite Insurance Product dari Bisnis Indonesia

Sedangkan data pembayaran klaim kepada Nasabah Allianz adalah sebagai berikut :
* Selama tahun 2011 =  412.471 klaim = Rp 418.619.986.793,00 dan USD 505.797
* Selama tahun 2012 =  348.320 klaim = Rp 482.783.940.000,00 dan USD 704.177
* Selama tahun 2013 =  187.458 klaim = Rp 300.797.160.838,00 dan USD 358.300



Asuransi pendidikan`
Dari jenis-jenis asuransi yang ditawarkan oleh asuransi Allianz, saya baru menyadari, bahwa mimpi-mimpi saya ternyata bisa diwujudkan bersama Allianz. Ingin menghadapi masa pensiun dengan tenang, ingin berobat secara nyaman, ingin pendidikan dan masa depan anak-anak saya terjamin, semua ada di Allianz. Tak hanya itu. Allianz ternyata juga mengurusi hal yang kadang tak pernah terpikirkan dalam benak kita sedikit pun. Asuransi untuk perjalanan, contohnya.


Asuransi Travel Pro

Bila saya ingin melakukan hobi travelling dengan nyaman, hal itu juga bisa diwujudkan bersama Allianz. Asuransi Allianz ternyata telah memberikan perlindungan dalam berbagai sendi kehidupan.

Sebagai seorang ibu rumah tangga dan Pegawai Negeri Sipil (PNS), tujuan utama saya adalah masa depan keluarga. Maka fokus saya pun saya tujukan ke produk asuransi milik Allianz yaitu Smartlink Account Plus.

Allianz SmartLink New Flexi Account Plus = wujudkan semua mimpi



Yaitu suatu program asuransi yang memberikan kenyamanan perlindungan jiwa dan hasil investasi yang maksimal. Manfaat yang diberikan oleh Allianz SmartLink New Flexi Account Plus  yaitu :
Jaminan perlindungan jiwa seumur hidup, pasti dan maksimal.
a. Perlindungan terhadap resiko meninggal dunia, cacat tetap total dan cacat tetap sebagian sebagai akibat dari kecelakaan
b. Perlindungan terhadap 49 jenis penyakit kritis
c. Manfaat tunai penyakit kritis komprehensif yang melindungi terhadap resiko 100 kondisi penyakit kritis
d. Perlindungan terhadap cacat tetap total akibat penyakit atau kecelakaan
e. Manfaat yang menawarkan pembebasan premi jika pemegang polis/pasangan meninggal dunia
f. Manfaat yang menawarkan pembebasan premi jika pemegang polis/pasangan terdiagnosa salah satu dari 49 penyakit kritis atau mengalami cacat total

g. Perlindungan terhadap resiko kesehatan diri dan keluarga bila harus menjalani rawat inap di rumah sakit
h. Perlindungan terhadap resiko kesehatan berupa penggantian biaya perawatan rumah sakit karena sakit maupun kecelakaan
i. Perlindungan terhadap resiko meninggal dunia baik karena sakit maupun kecelakaan.
Manfaat investasi

Untuk memaksimalkan investasi, sejak tahun pertama Allianz ternyata memberikan Nilai Investasi yang positif . Dan selanjutnya, saya dapat  menggunakan Nilai Investasi yang terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan finansial sesuai dengan kebutuhan di masa mendatang. Oleh sahabat saya, saya pun dibuatkan ilustrasi  hasil investasi  Allianz SmartLink New Flexi Account Plus seperti di bawah ini :





Melihat ilustrasi-ilustrasi tersebut, tak sabar rasanya saya untuk bilang YA, terhadap ajakan sahabat saya untuk ikut gabung dengan asuransi Allianz ini. Karena saya percaya, asuransi mampu mewujudkan mimpi-mimpi saya dalam setiap aspek kehidupan.



                                                           ***


Bahan referensi :

www.allianz.co.id


Tulisan ini diikutkan Allianz Writing Competition 2014

Melongok proses pembuatan Mie

 Tanpa banyak kata dan penjelasan, berikut adalah tahapan proses pembuatan mie.  Eh, tapi sebelum ke proses, kita intip dulu peralatan  untuk membuat mienya dulu yuuk ..









Nah, berikut ini bahan dan proses pembuatan mienya  :

 - Bahan utama membuat mie  : TEPUNG






Prosesnya  :


















Pengeringan mie menggunakan sinar matahari langsung




 Mie yang dioven 



 Mie yang siap untuk dipasarkan

 








Selasa, 14 Oktober 2014

Kunjungan Ke Pabrik saos dan kecap

Pernah dengar jargon kalau kecap itu selalu nomer 1 kan ? Benarkah demikian ? Untuk membuktikannya ikuti laporan hasil kunjungan saya ke pabrik kecap dan saos berikut ini yaa...

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober 2014 saya diajak Kepala Kantor untuk mengunjungi pabrik kecap dan saos. Saya sempat khawatir, jangan-jangan setelah ke pabriknya saya jadi nggak doyan makan kecap dan saos niih.. Hal ini berdasarkan  penuturan kakak saya yang jadi ogah makan saos setelah melihat cara pembuatannya. Daripada penasaran saksikan sendiri saja yuuk

SAOS

1. Bahan saos yang terdiri dari wortel dan ubi dicampur jadi satu dalam bak penampungan


 Penampungannya saja besarnya segini, bagaimana membersihkannya ya ??  Yang pasti, agar hygienis, tentu saja penampungan ini dibersihkan secara teratur.

2. Saos yang sudah jadi






3. Siap-siap untuk dibungkus

    Ini alat pembungkusnya yang sudah agak modern







4. Mengepak saos

     Setelah saos sudah terbungkus dan meluncur dari papan luncur, para pegawai siap mengepak saos dalam bal. Satu bal kalau tidak salah isinya 24 bungkus saos.





Nah, ini dia Kepala kantor saya yang senang sekali nanya-nanya ke pegawai bagian pengepakan.





2. KECAP

    Kalau selama ini kita mengira bahwa bahan untuk membuat kecap adalah dari kedelai ternyata itu tidak seluruhnya benar. Memang ada yang terbuat dari kedelai (kecap kualitas bagus), tetapi ada juga yang berasal dari gula kelapa yang warnanya hitam.

a. Agar lembut, kecap harus disaring dulu




b. Yang sudah halus, dimasukkan ke dalam drum


c. Kecap siap dibungkus






Dan, tak ada gading yang tak retak. Perusahaan yang saya kunjungi ternyata menerima pengembalian atau retur kecap yang cacat. Yang membuat agak kasihan, jika ada satu bungkus yang bocor, maka kecap yang diretur adalah semuanya atau satu bal, bukan kecap yang rusak saja.





Nah, sekian laporan pandangan mata atau reportase kunjungan saya di pabrik saos dan kecap. Nantikan laporan saya  ke pabrik-pabrik yang lainnya ya....


Rabu, 17 September 2014

SEJAHTERA SAAT PENSIUN, BISAKAH ?

                                                  
“Sebagai anak seorang pensiunan, saya tak ingin mengulang sejarah hidup Bapak”

Mengayuh becak dan terjerat rentenir

Di usianya yang merambat senja, saat pensiun, Bapak masih harus bekerja keras menghidupi keluarga dengan mengayuh becak. Hal itu karena bapak  mempunyai tanggungan 5 orang anak yang semuanya masih sekolah. Otomatis banyak biaya yang harus dikeluarkan saat bapak pensiun. Saya memang tak bisa menyalahkan siapa pun. Bapak atau pemerintah yang telah memberikan uang pensiun setiap bulan. Dengan uang pensiun yang hanya sebesar 75% x gaji pokok, untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan, mencukupkan uang sebanyak itu tentu memerlukan taktik jitu yang luar biasa. Apalagi  ketika pensiun pangkat terakhir bapak adalah golongan I/d.

Terlahir sebagai bungsu dari delapan bersaudara, saya tahu betul lika-liku kehidupan keluarga setelah bapak pensiun. Saat bapak pensiun, saya masih kelas 5 SD, sementara empat kakak saya yang lain masih menempuh pendidikan SD dan SMP. Sedangkan tiga kakak perempuan saya yang lain sudah menikah lebih dulu. Tak terbayangkan dan tak terperi kehidupan keluarga saat bapak pensiun. Gali lubang tutup lubang, kalau Bang Haji Rhoma Irama bilang. Makan dua kali sehari, sering kami alami. Makan bubur (karena persediaan beras terbatas) dan sarapan dengan lauk yang beli di warung, merupakan suatu kemewahan buat kami. Bapak pulang tak bawa uang, kerap saya saksikan. Saking parahnya dan mungkin hanya ini satu-satunya jalan, ibu pun akhirnya terjerat hutang ke rentenir.

Maklumlah, siapa sih saudara atau tetangga yang percaya dengan kemampuan membayar pada keluarga kami ? Karena tempat atau orang yang tak banyak membutuhkan jalur birokrasi rumit, bisa segera mendapatkan fresh money, maka lintah darat atau rentenir lah jalan yang ditempuh Ibu. Hanya satu kejelekan rentenir yang saya benci hingga kini : bunganya yang  sangat mencekik leher !

Dengan bunga pinjaman yang beranak pinak dan membumbung tinggi, ekonomi keluarga saya semakin sulit. Dan puncaknya adalah saat bapak menjual satu-satunya asset dan kekayaan keluarga kami, sebuah rumah tempat kami berteduh yang terletak di Perumnas Banyumanik, Semarang. Membaikkah KESEJAHETERAAN keluarga setelah rumah dijual ? Tidak ! Bahkan semakin memburuk. Meski kedua kakak saya ikut membantu bekerja untuk kesejahteraan keluarga. Ada yang mengikuti jejak Bapak mengayuh becak, ada juga yang jadi tukang bangunan. Sedih bin miris, kalau mengingat masa pensiun Bapak.

Pasca rumah dijual oleh bapak, kami sekeluarga sempat menjadi kontraktor atau pengontrak rumah. Dari tahun 1985-1995 kami mengontrak rumah. Lama ya? Dan lucunya rumah-rumah yang kami kontrak itu masih dalam satu RT. Pernah kami pindah hanya berjarak 2 rumah dari rumah yang kami tempati sebelumnya.

Jadi melek finansial


Berkaca dari pengalaman masa kecil, saya langsung bertekad dalam hati : tak ingin mengulang sejarah masa lalu. Apalagi pekerjaan saya sekarang sama dengan bapak : sama-sama sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), sama-sama akan mengalami masa pensiun. Saya pun sedikit demi sedikit jadi MELEK FINANSIAL. Berusaha untuk tahu dan belajar bagaimana mengelola gaji yang baik saat masih bekerja. Karena saya ingin saat pensiun saya merasa sejahtera. Paling tidak kondisi keuangan tak jauh berbeda dengan saat saya masih berdinas.

sedang berdinas

Apalagi ketika membaca keterangan dari Sri Wening Handayani, Analis pembangunan sosial dari ADB, bahwa banyak pekerja di Indonesia menghadapi masa tua yang tidak jelas karena hanya sekitar 10% yang memiliki pensiun.

Sejahtera saat pensiun

Menurut pendapat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, ada 5 (lima) hal yang bisa menjamin kesejahteraan hidup di masa pensiun di Indonesia, yaitu :

1) Adanya dukungan keluarga
Sebuah riset menyebutkan ada sekitar 20% orang di Indonesia yang masih berharap bantuan keuangan dari anak di masa tua. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan  Malaysia yang mencapai 42%.

2) Memiliki pendapatan dengan bekerja lagi.
Sekitar 75% orang di Indonesia berharap bisa bekerja lagi setelah masuk masa pensiun. Ini merupakan angka tertinggi di Asia. Bandingkan dengan di Singapura, di mana 71% orang yang berharap bekerja lagi pasca pensiun. Sedang di Malaysia hanya 34% orang berharap bekerja lagi di usia pensiun. Tapi kenyataannya, jumlah pensiunan yang diserap bekerja lagi tidak terlalu tinggi. Di Indonesia, hanya sekitar 40% pensiunan yang bisa diserap bekerja kembali. Sementara di Malaysia hanya 21% dan di Singapura 26%.

3) Adanya simpanan dalam rumah tangga
Dengan penduduk yang sangat berhati-hati, banyak orang Indonesia yang masih mengutamakan menyimpan uang simpanan rumah tangganya di instrumen kas atau deposito.
4) Adanya jaminan sosial dari pemerintah.

5) Berharap pada dana pensiun.

Menyiapkan dana pensiun

Oleh karena itu, memikirkan pendanaan pensiun sangat penting. Para perencana keuangan pun kompak bilang, semakin cepat mengalokasikan dana pensiun, besaran cicilan dana pensiun semakin kecil, tapi potensi dana yang terkumpul semakin besar. Belum lagi soal compounding return (akumulasi keuntungan) yang didapat pasti makin besar.

Untuk menghitung biaya hidup pasca pensiun dan biaya kesehatan di masa pensiun, beberapa data yang perlu dihitung adalah :

1. Berapa tahun lagi waktu tersisa untuk memasuki usia pensiun (usia pensiun, misal 55 tahun dikurangi usia saat ini)

2. Berapa tahun waktu yang kita perkirakan menikmati masa pensiun (dengan menggunakan asumsi usia maksimal hidup, misal 80 tahun dikurangi usia pensiun)

3. Biaya yang kita perlukan untuk biaya hidup atau perkiraan biaya kesehatan kita saat ini, selama sebulan (misal biaya hidup dan biaya kesehatan saat ini selama sebulan, Rp 5 juta)

sumber foto : www.sam.co.id

Dengan menggunakan asumsi usia saat ini 35 tahun dan inflasi 6% per tahun, maka nilai biaya hidup dan kesehatan akan menjadi sebesar sekitar Rp 16 juta/bulan (dalam waktu 20 tahun ke depan).Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pensiun selama 25 tahun (usia maksimal 80 tahun dikurangi 55 tahun usia pensiun), maka nilai yang harus kita persiapkan adalah sekitar sebesar Rp 11 milyar.

Artinya saat masuk usia pensiun dimana secara ekstrim kita sudah tidak produktif sama sekali, maka dana yang harus tersedia saat itu (atau 20 tahun lagi dari sekarang) adalah sebesar Rp 11 milyar, dengan asumsi dana tersebut akan kita simpan dalam bentuk dana yang likuid dengan asumsi return hanya 4% dan inflasi saat itu mencapai 10% per tahun.

Bagaimana mencapai nilai dana sebesar Rp 11 milyar dalam waktu 20 tahun mendatang itulah yang menjadi tugas atau “pekerjaan rumah” kita saat ini. Dengan menggunakan asumsi return suatu produk investasi yang kita gunakan untuk memenuhi “tugas” tersebut adalah 25% per tahun, maka investasi secara bulanan yang harus kita lakukan adalah sebesar sekitar Rp 1.6 juta / bulan.

Investasi dana pensiun

Kita juga bisa mengalokasikan sendiri dana pensiun di keranjang investasi yang bersifat lebih agresif dengan potensi return lebih besar. Di sisi lain, risiko investasi menjadi hal yang tak perlu dirisaukan karena rentang investasi yang panjang mampu menjembatani risiko tersebut.

Nah, berikut beberapa alat investasi yang bisa dimanfaatkan untuk membentuk dana pensiun kita :
a) Reksadana saham
Setidaknya ada dua keuntungan yang bisa didapat dari investasi reksadana saham, yakni potensi return dari pergerakan harga saham dan kemudahan berinvestasi.
Berbeda dengan saham yang memerlukan penanganan lebih jeli, melalui reksadana, investasi kita akan diracik oleh Manajer Investasi (MI). Potensi return pun cukup besar, bisa sampai 30% per tahun. Tapi, memang ada risiko nilai investasi bisa turun lantaran fluktuasi harga saham yang menjadi portofolionya.
Untuk investor berkarakter moderat, reksadana campuran bisa menjadi pilihan. Alasannya, risiko investasinya lebih kecil.

b) Saham
Selain menikmati kenaikan harga saham, investor bisa menikmati pembagian laba bersih perusahaan atau dividen. Namun, butuh analisis cermat agar tak salah pilih saham. Untuk memudahkan pemilihan saham, kita bisa memilih saham-saham dengan kinerja fundamental bagus, seperti saham-saham perusahaan besar atau blue chips. Namun harga saham blue chip, biasanya, mahal. Jadi, kita sebaiknya membeli saham lapis kedua yang berpotensi memiliki pertumbuhan bagus untuk jangka panjang.

c) Obligasi
Obligasi atau surat utang jangka panjang di atas 15 tahun juga bisa menjadi pilihan. Sama seperti saham, sebaiknya kita menyimpan obligasi untuk jangka panjang, bahkan hingga jatuh tempo.
Dari investasi obligasi, kita bisa menikmati pembagian kupon atau bunga dan kenaikan harga. Untuk menekan risiko, sebaiknya kita memilih obligasi pemerintah ketimbang korporasi.

d) Properti
Properti bisa menjadi sumber dana pensiun. Namun, menjual properti adalah pilihan paling akhir. Selain harganya tak murah, menjual properti juga tak gampang. Jadi, lebih baik menyewakan properti kita untuk mendapatkan passive income.  Pemilihan jenis dan lokasi properti menjadi faktor krusial karena akan menentukan tingkat kenaikan harga dan permintaan sewa.

e) Asuransi yang memberikan proteksi dan investasi

Proteksi dan investasi dari SUN LIFE

Keikutsertaan kita dalam Program Dana Pensiun yang diselenggarakan oleh Perusahaan Asuransi merupakan alternatif jitu untuk menghadapi masa pensiun lebih sejahtera dengan berbagai macam proteksi. Tetapi kita juga perlu memperhatikan profesionalitas dari Perusahaan Asuransi tersebut, agar program dana pensiun kita berfungsi maksimal. Utamanya mudah memperoleh klaim.

Perusahaan Asuransi yang bisa memberikan program dana pensiun harus memenuhi berbagai persyaratan sebagai berikut :
1) Memenuhi tingkat solvabilitas sesuai peraturan perundang-undangan sekurang-kurangnya 8 (delapan) bulan terakhir

2) Memiliki kesiapan menyelenggarakan DPLK di bidang organisasi, personalia dan sistem administrasinya

3) Memiliki kinerja investasi yang sehat sesuai ketentuan investasi di bidang asuransi

4) Memiliki tingkat kesinambungan pertanggungan yang sehat sekurang-kurangnya 2 tahun terakhir dengan nilai tunai 20%

5) Sanggup menyampaikan laporan hasil peneilaian solvabilitas dan laporan investasi perusahaan

6) Telah menjalankan usaha sekurang-kurangnya 5 tahun

di SUN LIFE Cabang Malang

Dan salah satu perusahaan yang memenuhi syarat-syarat seperti tersebut di atas adalah SUN LIFE. Hal ini terbukti dari beberapa penghargaan yang telah diraih, yaitu :
a. Brighter Life Indonesia berhasil memenangkan IMA Outstanding Achievement Award untuk kategori ‘Informasi Keuangan’

b. Juara 1 untuk kategori The Best Risk Management Islamic Life Insurance dengan asset di bawah Rp 100 milliar dari Karim Consulting Group di tahun 2013

c. Juara 3 untuk kategori The Best Islamic Life Insurance dengan asset di bawah 100 miliar dari Karim Consulting Group di tahun 2013

d. Juara 4 Contact Center Service Excellence Award (CCSEA) untuk kategori asuransi jiwa dan kesehatan dari Carre-CSL dan majalah Service Excellence di tahun 2013

e. Peringkat 3 untuk kategori asuransi jiwa dengan aset di bawah Rp 5 triliun Corporate Image Award yang diselenggarakan oleh Majalah Bloomberg Businessweek dan Frontier Consulting Group di tahun 2013

f. Peringkat 1 The Best Risk Management Islamic Life Insurance dengan aset di bawah Rp 150 miliar dari Karim Consulting Indonesia di tahun 2014



g. Peringkat 3 The Profitable Insurance dengan aset di bawah Rp 150 miliar dari Karim Consulting Indonesia di tahun 2014

h. Email Pusat Layanan Nasabah sli_care@sunlife.com meraih predikat “Excellent” untuk kategori industri asuransi dari Carre-CSL dan majalah Service Excellence di tahun 2014

i. Contact Center Service Excellence Award (CCSEA) meraih predikat “Excellent” untuk kategori asuransi jiwa dan kesehatan dari Carre-CSL dan majalah Service Excellence di tahun 2014

Baik investasi untuk masa pensiun maupun mempersiapkan dana pendidikan anak kita dan  masa depan yang cerah memerlukan perencanaan yang cermat. PT Sun Life Financial Indonesia telah menawarkan  berbagai program asuransi bagi setiap tahapan kehidupan kita. Termasuk untuk PERLINDUNGAN KELUARGA. Apalagi setiap perencanaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pribadi kita. Salah satunya adalah melalui Asuransi Brilliance Sejahtera.

Beberapa Keunggulan Brilliance Sejahtera dari SUN LIFE yaitu :
a.  Minimum Premi yang terjangkau yaitu mulai dari Rp2.400.000,- atau US$300.

b. Fleksibel, karena kita dapat melakukan penambahan (Top Up), penarikan (withdrawl) maupun pengalihan (switching) dana investasi kapan saja.

c. Bebas menentukan pilihan Dana Investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan investasi kita.

d. Bebas untuk memilih mata uang dari pilihan Dana Investasi yaitu Rupiah atau US$.

e. Fleksibilitas untuk menentukan komposisi Dana Investasi pilihan kita sesuai dengan kebutuhan dan profil risiko investasi pribadi karena Brilliance Sejahtera memiliki sistem investasi Multiple Fund.

f. Bebas menentukan Uang Pertanggungan yang diinginkan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

g. Cara bayar Premi yang mudah yaitu tahunan, semesteran, triwulanan atau bulanan.

h. Dapat ditambahkan dengan asuransi tambahan.

Wujud  Melek Finansial

Belajar dari  penjelasan tersebut  di atas, berikut  adalah wujud  melek finansial yang sudah saya lakukan dalam mengelola penghasilan saya selama ini  :
1) ikut asuransi  dana pensiun yang langsung dipotong atau autodebet dari tabungan payroll saya setiap bulannya
  Tujuan saya ikut asuransi ini adalah agar lebih disiplin dalam menabung sekaligus menyiapkan dana pensiun.

2) ikut asuransi jiwa atau asuransi bea siswa untuk anak ketiga saya, Mutiara Larasati (Rara) yang saat ini masih berumur 13 bulan.

keluarga kecil saya


Asuransi bea siswa ini adalah salah satu cara saya mengatasi rasa khawatir disamping  wujud  rasa sayang saya saat Rara lahir. Ketika melahirkan Rara umur saya sudah 39 tahun.  Saya perkirakan saat saya pensiun, Rara sedang banyak-banyaknya membutuhkan biaya untuk sekolah. Dengan iuran semesteran asuransi sebesar Rp 2,3 juta, saya berharap ketika pensiun biaya pendidikan Rara sudah dicover oleh pihak asuransi.

3) Punya asset berupa rumah dan tanah
Syukur Alhamdulillah, rumah dan tanah saya yang di Semarang bisa menghasilkan passive income buat saya. Rumah saya kontrakkan, sedangkan tanah rencananya akan saya tanami pohon pisang dan sengon. Kedua asset saya ini sebagian juga saya jadikan ladang berbagi untuk saudara-saudara saya yang kurang mampu di Semarang.

Dan akhirnya
"Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan."
Kalau kita sudah berniat sungguh-sungguh dan langsung mulai menyiapkan bekal untuk masa pensiun nanti, rasanya tak mustahil bagi kita untuk bisa menikmati masa pensiun dengan sejahtera. Dan memang tak ada yang mustahil di dunia ini.


***







Tulisan ini diikutkan dalam Sun Anugerah Caraka, Kompetisi Menulis Blogger Sun Life 2014