Ini kisah tentang kakak perempuanku yang pertama, namanya Mbak
Tuginah. Aku dan kakak-kakakku yang lain biasa memanggilnya : Mbak Tu.
Sekarang umurnya sekitar 45 tahunan. Kisah ini sudah terjadi beberapa
tahun yang lalu. Mbak Tu ini sering sekali sakit kepala. Kami nggak
tahu, sakit kepalanya itu apakah karena kebanyakan masalah, atau karena
pusing biasa, atau karena punya sakit tekanan darah tinggi. Dan yang
lebih parahnya lagi, ketika kepalanya pusing, Mbak Tu ini gampang banget
minum obat yang dijual di warung-warung. Mungkin karena praktis dan
murah ya…
Siang itu, saat kepalanya pusing, Mbak Tu
minum tablet penghilang sakit kepala. Sudah minum 2 butir tablet tetap
nggak mempan. Pusing di kepalanya tidak juga menghilang. Akhirnya,
setelah beberapa jam, Mbak Tu menambahinya dengan minum puyer penghilang
sakit kepala. Tetap nggak mempan juga. Karena jengkel, Mbak Tu akhirnya
tidur.
Menjelang Maghrib, Mbak Tu bangun. Betapa
kagetnya, aku dan saudara-saudaraku yang lain saat melihatnya. Mukanya
bengkak, seperti orang kena biduren. Gatal dan perih, katanya. Untuk
menghindari kejadian yang lebih buruk, saat itu Mbak Tu hanya minum air
putih sebanyak-banyaknya. Siapa tahu obatnya cepat mengalir ke air seni.
Kami pun berjanji, kalau sampai besok pagi belum ada perubahan, Mbak Tu
akan kami bawa ke Puskesmas.
Keesokan harinya, masih
belum ada perubahan. Justru mukanya Mbak Tu malah tambah bentol-bentol
dan gatal, akhirnya kutemani Mbak Tu ke Puskesmas terdekat. Di sana Mbak
Tu diperksa. Kata Dokter yang memeriksa, tekanan darah Mbak Tu ternyata
tinggi. Dan ada kemungkinan, Mbak Tu alergi/tidak cocok dengan tablet
dan puyer penghilang sakit kepala yang kemarin diminumnya. Dari Pak
Dokter pula kami diberi tahu agar kami mulai mengatur pola makan. Umur
sudah banyak, kita tidak boleh makan yang sembarangan lagi. Lebih baik
banyak makan sayur dan buah, perbanyak pula minum air putih, minimal 8
gelas sehari. Karena Mbak Tu juga punya tekanan darah tinggi, tubuhnya
juga gemuk, akhirnya dia juga diberitahu pula makanan apa yang boleh
dimakan dan makanan apa pula yang tidak boleh dimakan/harus dihindari.
Makanan yang harus dihindari utamanya adalah daging-dagigan, makanan
yang digoreng atau berkolesterol tinggi dan makanan yang asin atau
mengandung MSG. Dari Pak Dokter pula kami tahu, agar kita tidak boleh
minum obat sembarangan. Lebih baik datang dan konsultash saja ke
Puskesmas atau dokter terdekat.
Sepulangnya dari
Puskesmas, dan setelah minum obat yang diberikan oleh pak Dokter,
kesehatan Mbak Tu berangsur-angsur membaik. Sakit kepalanya hilang,
biduren nyapun sedikit demi sedikit juga kempes. Alhamdulillah…….
Kini,
Mbak Tu sudah jarang sakit. Kalaupun sakit mungkin cuma sakit flu atau
masuk angin biasa. Tubuhnya memang gemuk, tetapi gerakannya juga gesit.
Pergi ke manapun, walau jalan kaki, dia tidak mengeluh capek. Sekarang
dia sudah punya 4 anak dan 2 cucu lho.
Dari pengalamannya
Mbak Tu waktu sakit itu pula, aku bisa mengambil hikmah : lebih baik
kita menjaga kesehatan dengan banyak berolah raga dan mengatur pola
makan kita, daripada mengobati. Juga saat kita sakit, jangan minum obat
sembarangan. Bisa jadi, bukan kesembuhan yang kita dapat, justru
penyakit yang lebih berbahaya malah bisa menghampiri kita. Waspadalah...
waspadalah !!!!!!!
Jumat, 29 Juni 2012
DAN…., BU DOKTER GIGIPUN KAGUM KEPADA RIFQI (lomba menulis blog # MomsGoBlogging)
Jum ‘at malam kemarin, 15 Oktober 2010, anakku yang nomor 2, Rifqi
Ainun Naufal (5 tahun) rewel. Dia bilang kalau giginya sakit. Waduh…
penyakit langganan nih. Saya sih sebetulnya mau-mau saja membawa Rifqi
ke dokter gigi. Tapi saya trauma dengan sikap Rifqi ketika ke dokter
gigi beberapa bulan yang lalu. Rifqi tidak mau membuka mulutnya, tidak
mau diperiksa giginya oleh Bu Dokter. Alhasil pada sakit gigi kali
inipun saya bingung, dibawa ke dokter gigi atau tidak ya enaknya ?
Sabtu pagi itu saya masih bimbang, membawa Rifqi ke dokter gigi atau tidak. Akhirnya sebelum saya berangkat untuk latihan yoga, dengan pelan-pelan saya bilang ke Rifqi, “ Qi, nanti siang kita ke dokter gigi ya ? Rifqi mau kaaan ?? Daripada Rifqi sakit dan rewel lho…. Paling nanti giginya cuma dilihat sama Bu Dokter, Qi. Ayo, mau ya sayang ?? “
Tidak ada anggukan atau gelengan kepala dari Rifqi. Juga tidak ada jawaban ya atau tidak.
Siangnya, setelah saya latihan yoga dan Rifqi pulang dari sekolah, kuantar Rifqi ke klinik gigi di RS Lavalette. Perasaan was was masih menyelimutiku. Khawatir kalau Rifqi tidak mau diperiksa giginya. Apalagi saat sedang antri, ada seorang anak yang sedang diperiksa giginya menangis keras sekali. Untuk mengatasinya, kualihkan perhatian Rifqi, kuajak dia menjauh dari ruang praktek dokter. Kebetulan di RS tersebut ada taman yang asri. “Bu, Bu… aku mau lihat burung itu !” kata Rifqi sambil menunjuk tempat burung di taman itu. “Iya Qi, nanti kita lihat ke sana ya, tapi setelah Rifqi periksa gigi. “
Alhamdulillah, pas masuk di ruangan dokter gigi, ditangani oleh Bu Dokter gigi yang masih muda dan cantik, yang sabar dan telaten, akhirnya Rifqi mau diperiksa giginya. Ternyata memang gigi Rifqi sudah banyak yang berlubang. Ah leganya, akhirnya Rifqi ku sekarang telah menjadi seorang yang pemberani. Berani untuk diperiksa dan dirawat giginya. Masih terngiang pujian dari Bu Dokter gigi : “Ih, Mas Rifqi hebat ya… mau diperiksa giginya. Minggu depan ke sini lagi ya sayang … , untuk perawatan gigi“.
Rifqi & aku, ibunya..
Sabtu pagi itu saya masih bimbang, membawa Rifqi ke dokter gigi atau tidak. Akhirnya sebelum saya berangkat untuk latihan yoga, dengan pelan-pelan saya bilang ke Rifqi, “ Qi, nanti siang kita ke dokter gigi ya ? Rifqi mau kaaan ?? Daripada Rifqi sakit dan rewel lho…. Paling nanti giginya cuma dilihat sama Bu Dokter, Qi. Ayo, mau ya sayang ?? “
Tidak ada anggukan atau gelengan kepala dari Rifqi. Juga tidak ada jawaban ya atau tidak.
Siangnya, setelah saya latihan yoga dan Rifqi pulang dari sekolah, kuantar Rifqi ke klinik gigi di RS Lavalette. Perasaan was was masih menyelimutiku. Khawatir kalau Rifqi tidak mau diperiksa giginya. Apalagi saat sedang antri, ada seorang anak yang sedang diperiksa giginya menangis keras sekali. Untuk mengatasinya, kualihkan perhatian Rifqi, kuajak dia menjauh dari ruang praktek dokter. Kebetulan di RS tersebut ada taman yang asri. “Bu, Bu… aku mau lihat burung itu !” kata Rifqi sambil menunjuk tempat burung di taman itu. “Iya Qi, nanti kita lihat ke sana ya, tapi setelah Rifqi periksa gigi. “
Alhamdulillah, pas masuk di ruangan dokter gigi, ditangani oleh Bu Dokter gigi yang masih muda dan cantik, yang sabar dan telaten, akhirnya Rifqi mau diperiksa giginya. Ternyata memang gigi Rifqi sudah banyak yang berlubang. Ah leganya, akhirnya Rifqi ku sekarang telah menjadi seorang yang pemberani. Berani untuk diperiksa dan dirawat giginya. Masih terngiang pujian dari Bu Dokter gigi : “Ih, Mas Rifqi hebat ya… mau diperiksa giginya. Minggu depan ke sini lagi ya sayang … , untuk perawatan gigi“.
Rifqi & aku, ibunya..
1000 kisah tentang Ibu : IBUKU, TIDAK INGIN ANAK-ANAKNYA MENJADI ANAK TIRI
Dulu, sewaktu aku masih kecil, dan sering diulang ketika
aku sudah remaja, ibuku (Bu Asiyah) pernah bercerita, bahwa menjadi
anak tiri itu sangat tidak enak. Sangat menderita sekali. Ini bukan
sekedar cerita menakut-nakuti lho......Berdasarkan cerita beliau, Ibuku
dulu sangat menderita sebagai anak tiri. Perlakuan ibu tiri yang kejam,
perlakuan yang berbeda dengan anak kandung, ternyata bukan sekedar
cerita saja.
Ibu memang benar-benar mengalaminya !!!! Untuk itulah, Ibu tidak mau anak-anaknya menjadi anak tiri. Bagaimanapun keadaannya, Ibu ingin, semua anaknya diasuh dan dilindunginya. Bahkan ketika ada kakakku yang akan diasuh oleh Pakdhe, Ibuku tidak mengijinkannya. Begitu juga kehidupan berumah tangganya dengan Bapak (Pak Salim). Sangat dijaga betul. Apapun masalahnya dengan Bapak, Ibu berusaha mempertahankan pernikahannya dengan bapakku. Bagaimanapun "nakalnya" Bapak, Ibuku selalu memaafkannya. Dan ternyata, hanya mautlah yang memisahkan kisah cinta Bapakku dengan Ibuku. Bapakku meninggal dunia pada tanggal 15 Maret 2008.
Ah Ibu, betapa mulia budi pekertimu. Dengan penghasilan Bapak sebagai PNS rendahan (Bapak pensiun dengan pangkat I D), dan dengan tanggungan 8 anak, Ibu berusaha sekuat tenaga membesarkan kami, putra putrinya. Ibu juga berusaha sekuat tenaga agar kami, putra putrinya bisa bersekolah semaksimal mungkin. Gali lubang tutup lubang, terjerat hutang ke rentenir (dengan bunga hutang yang sangat mencekik leher), menjual rumah untuk melunasi hutang, dilakukan Ibu untuk membesarkan kami, anak-anaknya. Tentang kisah menjual rumah ini, aku masih punya rasa sakit hati sampai sekarang. Bahkan masih ada keinginan kuat untuk bisa membeli rumah itu kembali. Ya, sebuah rumah, di Semarang. Rumah tempat kami dibesarkan beramai-ramai. Rumah yang di sekelilingnya ada pohon tebu, pohon jambu batu, jambu air, sirsak, dan tumbuhan lain. Sakit hatiku pada makelar yang menjual rumahkt. Bayangkan, dia bisa menjual rumaku pada tahun 1985 seharga 3,25 juta, e... sama Ibu dan Bapakku cuma dibayarkan 2,5 juta. Ah... namanya juga makelar. Ngambil untungnya banyak banget !!! Sejak dari menjual rumah itu, kami menjadi "kontraktor". Pengontrak dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Kadang sampai malu aku pada teman-temanku, alamat rumah kok gonta-ganti terus. Tapi Ibuku tetap saja sabar dan bersahaja menjalani rumah tangga dengan selalu pindah rumah itu.
Rasa cinta ibu kepadaku sebagai anak bungsunya semakin terlihat ketika tahun 1994 aku memutuskan merantau ke Jakarta untuk sekolah kedinasan. Ah Ibu, aku tahu pasti, engkau pasti sangat berat untuk melepaskanku. Kulihat mata ibuku berkaca-kaca. Mungkin ibu tidak tega melepasku yang saat itu tidur saja masih dikeloninya (ah.. jadi malu ...). Tapi restunya tetap diberikannya untukku, untuk hidup jauh di Jakarta, juga restu untukku ketika aku menikah pada tanggal 16 Maret 2000. Biarpun aku sudah menikah dan punya anak, sampai kini, ibu juga masih menyediakan makanan coklat kesukaanku, seperti GERY CHOCOLATOS. Kalau sudah ada GERY CHOCOLATOS, bisa rebutan antara anak dan cucu-cucunya.
Kini, ketika 8 anaknya sudah mentas (berkeluarga) semua, kulihat rona kebahagiaan di wajah ibuku. Apalagi kalau pas ada acara keluarga dan semuanya bisa ngumpul. Wuih... ramenya. Oh ya, dari 8 anaknya, ibuku sekarang mempunyai 18 cucu dan 3 buyut lho... Buyut yang ketiga lahir pada tanggal 25 September 2010 kemarin. Di antara anak-anaknya, ada yang sudah berhasil menjadi guru SMA, PNS di Pemprov Jawa Tengah, PNS di Departemen Keuangan, jadi tukang, dan berbagai pekerjaan lainnya. Inilah hasil dari kerja keras ibu dan bapakku serta berkat penerapan prinsip ibuku yang tidak mau anak-anaknya menjadi anak tiri. Do 'akan kami juga selalu rukun ya....
Dan kini ketika usiaku menginjak 36 tahun , mudah-mudahan, aku juga bisa mengikuti jejak Ibuku, dapat mempertahankan mahligai pernikahanku yang sekarang “baru” menginjak usia ke-10. Mudah-mudahan aku juga bisa mengikuti dan menerapkan prinsip ibuku : "TIDAK INGIN ANAK-ANAKKU MENJADI ANAK TIRI. "
Di usiamu yang senja (68 tahun), ijinkan aku untuk membahagiakanmu, Ibu. Kalaupun engkau tidak bersedia ikut tinggal bersamaku di Malang (yang menurutmu sangat dingin, dibandingkan dengan kotamu kini, Semarang), aku bisa memakluminya. Hanya sebaris do 'a ini yang senantiasa kupanjatkan di setiap selesai sholatku, Ibu : Ya Allah, ampunilah dosa Ibu dan Bapakku. Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil. Amiiin....
Ibu & aku, anak bungsunya
keluarga kecilku
Ibu memang benar-benar mengalaminya !!!! Untuk itulah, Ibu tidak mau anak-anaknya menjadi anak tiri. Bagaimanapun keadaannya, Ibu ingin, semua anaknya diasuh dan dilindunginya. Bahkan ketika ada kakakku yang akan diasuh oleh Pakdhe, Ibuku tidak mengijinkannya. Begitu juga kehidupan berumah tangganya dengan Bapak (Pak Salim). Sangat dijaga betul. Apapun masalahnya dengan Bapak, Ibu berusaha mempertahankan pernikahannya dengan bapakku. Bagaimanapun "nakalnya" Bapak, Ibuku selalu memaafkannya. Dan ternyata, hanya mautlah yang memisahkan kisah cinta Bapakku dengan Ibuku. Bapakku meninggal dunia pada tanggal 15 Maret 2008.
Ah Ibu, betapa mulia budi pekertimu. Dengan penghasilan Bapak sebagai PNS rendahan (Bapak pensiun dengan pangkat I D), dan dengan tanggungan 8 anak, Ibu berusaha sekuat tenaga membesarkan kami, putra putrinya. Ibu juga berusaha sekuat tenaga agar kami, putra putrinya bisa bersekolah semaksimal mungkin. Gali lubang tutup lubang, terjerat hutang ke rentenir (dengan bunga hutang yang sangat mencekik leher), menjual rumah untuk melunasi hutang, dilakukan Ibu untuk membesarkan kami, anak-anaknya. Tentang kisah menjual rumah ini, aku masih punya rasa sakit hati sampai sekarang. Bahkan masih ada keinginan kuat untuk bisa membeli rumah itu kembali. Ya, sebuah rumah, di Semarang. Rumah tempat kami dibesarkan beramai-ramai. Rumah yang di sekelilingnya ada pohon tebu, pohon jambu batu, jambu air, sirsak, dan tumbuhan lain. Sakit hatiku pada makelar yang menjual rumahkt. Bayangkan, dia bisa menjual rumaku pada tahun 1985 seharga 3,25 juta, e... sama Ibu dan Bapakku cuma dibayarkan 2,5 juta. Ah... namanya juga makelar. Ngambil untungnya banyak banget !!! Sejak dari menjual rumah itu, kami menjadi "kontraktor". Pengontrak dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Kadang sampai malu aku pada teman-temanku, alamat rumah kok gonta-ganti terus. Tapi Ibuku tetap saja sabar dan bersahaja menjalani rumah tangga dengan selalu pindah rumah itu.
Rasa cinta ibu kepadaku sebagai anak bungsunya semakin terlihat ketika tahun 1994 aku memutuskan merantau ke Jakarta untuk sekolah kedinasan. Ah Ibu, aku tahu pasti, engkau pasti sangat berat untuk melepaskanku. Kulihat mata ibuku berkaca-kaca. Mungkin ibu tidak tega melepasku yang saat itu tidur saja masih dikeloninya (ah.. jadi malu ...). Tapi restunya tetap diberikannya untukku, untuk hidup jauh di Jakarta, juga restu untukku ketika aku menikah pada tanggal 16 Maret 2000. Biarpun aku sudah menikah dan punya anak, sampai kini, ibu juga masih menyediakan makanan coklat kesukaanku, seperti GERY CHOCOLATOS. Kalau sudah ada GERY CHOCOLATOS, bisa rebutan antara anak dan cucu-cucunya.
Kini, ketika 8 anaknya sudah mentas (berkeluarga) semua, kulihat rona kebahagiaan di wajah ibuku. Apalagi kalau pas ada acara keluarga dan semuanya bisa ngumpul. Wuih... ramenya. Oh ya, dari 8 anaknya, ibuku sekarang mempunyai 18 cucu dan 3 buyut lho... Buyut yang ketiga lahir pada tanggal 25 September 2010 kemarin. Di antara anak-anaknya, ada yang sudah berhasil menjadi guru SMA, PNS di Pemprov Jawa Tengah, PNS di Departemen Keuangan, jadi tukang, dan berbagai pekerjaan lainnya. Inilah hasil dari kerja keras ibu dan bapakku serta berkat penerapan prinsip ibuku yang tidak mau anak-anaknya menjadi anak tiri. Do 'akan kami juga selalu rukun ya....
Dan kini ketika usiaku menginjak 36 tahun , mudah-mudahan, aku juga bisa mengikuti jejak Ibuku, dapat mempertahankan mahligai pernikahanku yang sekarang “baru” menginjak usia ke-10. Mudah-mudahan aku juga bisa mengikuti dan menerapkan prinsip ibuku : "TIDAK INGIN ANAK-ANAKKU MENJADI ANAK TIRI. "
Di usiamu yang senja (68 tahun), ijinkan aku untuk membahagiakanmu, Ibu. Kalaupun engkau tidak bersedia ikut tinggal bersamaku di Malang (yang menurutmu sangat dingin, dibandingkan dengan kotamu kini, Semarang), aku bisa memakluminya. Hanya sebaris do 'a ini yang senantiasa kupanjatkan di setiap selesai sholatku, Ibu : Ya Allah, ampunilah dosa Ibu dan Bapakku. Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil. Amiiin....
Ibu & aku, anak bungsunya
keluarga kecilku
RAHASIA KULIT CANTIKKU
Menurutku, kulit yang cantik itu kalau kulit kita tampak sehat, kenyal dan cerah. Berikut ini rahasia kulit cantikku (perawatan dari dalam/jiwa dan perawatan dari luar ) :
1. aku hanya melakukan segalanya secara sederhana dan penuh dengan rasa cinta. Karena aktivitas seberat apapun kalau kita lakukan dengan rasa cinta, segalanya akan terasa ringan dan menyenangkan. Dan hal ini sangat berpengaruh terhadap kecantikan kulitku
2. Aku juga selalu berusaha menjaga kesehatan kulitku dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan mengkonsumsi makanan sehat, minum air putih (selalu kuusahakan) minimal 8 gelas sehari, latihan yoga, jalan kaki dan menjaga kualitas tidurku. Dan satu hal lagi yang juga tak kalah pentingnya : memberikan nutrisi terbaik bagi kulitku, yaitu dengan menggunakan produk kosmetika yang aman untuk kulitku.
3. Berusaha menghindari faktor-faktor perusak kulit, seperti lingkungan (polusi udara), gaya hidup yang kurang baik (merokok, minum-minuman beralkohol, stres) serta menghindari melakukan perawatan kulit yang salah. Perawatan kulit yang salah diantaranya adalah melakukan perawatan kulit demi mendapatkan kondisi kulit yang diinginkan secara instan. Dengan cara yang instan, maka kecantikan yang long lasting tak akan pernah kita dapatkan. Alih-alih ingin cantik, muka jadi tambah jerawatan, timbul flek hitam dan tak jarang pula menjadi infeksi.
Menjadi tua itu pasti, tapi menua dengan kulit sehat dan tetap terlihat cantik alami, itu adalah pilihan. Dan kini, diusiaku yang ke-37 tahun ini , saat ini dan sampai kapanpun, aku akan selalu berusaha untuk mendapatkan kulit yang cantik dan sehat. Kamu juga khaaan ??
RESEP SEMUR KELUARGAKU : SEMUR HATI AYAM TOMAT BANGO
Resep SEMUR HATI AYAM TOMAT BANGO
ini adalah kombinasi resep masakan kesukaan suami, aku dan anak-anak.
Karena suamiku senangnya masakan yang pedas, maka dalam semur ini
kutambahkan sedikit cabe merah keriting. Sedangkan aku yang asli
Semarang, Jawa Tengah, yang senang manis-manis, dalam resep semur ini
kutambahkan KECAP BANGO yang sudah menjadi kecap andalan keluargaku sejak dulu. Dan agar anak-anak suka makan sayur, dalam semur ini juga kutambahkan KENTANG dan TOMAT. Jadilah semur favorit keluargaku ini kuberi nama : SEMUR HATI AYAM TOMAT BANGO. Penasaran ingin mencobanya kan ? Berikut ini bahan-bahan yang dibutuhkan dan cara memasaknya :
Bahan :
Cara Memasaknya :
- Jika ingin rasa asam dari tomat tidak terasa, jumlah KECAP BANGO nya lebih dibanyakkan.
Pesan : Selamat menikmati dengan nasi putih hangat, dan awas... KETAGIHAN tidak ditanggung !!!!!!

Bahan :
- 4 pasang hati ayam (kalau ada hati ayam kampung yaaa ?)
- setengah batang daun bawang
- 2 buah kentang
- 1 buah tomat
- 1/4 sendok teh pala bubuk
- 1/4 sendok teh merica bubuk
- Garam secukupnya
- KECAP BANGO secukupnya
- Minyak untuk menumis
- 2 gelas air
- 3 buah cabe merah keriting
- 2 siung bawang putih
- 4 siung bawang merah
- Hati dan ampela ayam dibersihkan, beri perasan air jeruk nipis, diamkan sebentar, lalu goreng kecoklatan.
- Tomat dicuci bersih dan dipotong 8 bagian, sisihkan
- Daun bawan dipotong kasar, sisihkan
- Kentang dikupas, potong 8 bagian, goreng kecoklatan
Cara Memasaknya :
- Siapkan wajan,tumis bumbu halus, pala bubuk, merica bubuk dan potongan daun bawang sampai harum, lalu masukan hati ayam dan kentang, lalu tambahkan 2 gelas air
- Masak hingga air menyusut, setelah itu tambahkan garam secukupnya. Terakhir masukkan potongan TOMAT dan KECAP BANGO, aduk merata.
- Setelah itu angkat dan hidangkan dalam piring
- SEMUR HATI AYAM TOMAT BANGO siap disantap bersama anggota keluarga
- Jika ingin rasa asam dari tomat tidak terasa, jumlah KECAP BANGO nya lebih dibanyakkan.
Pesan : Selamat menikmati dengan nasi putih hangat, dan awas... KETAGIHAN tidak ditanggung !!!!!!

Langganan:
Postingan (Atom)